Kenapa saya pindah dari Medium ke domain sendiri
Tiga bulan setelah migrasi, traffic organik naik 3×. Catatan kecil yang berguna kalau kamu mempertimbangkan hal yang sama.
Saya menulis di Medium selama empat tahun. 60-an artikel, beberapa lumayan dibaca, satu-dua viral kecil. Pada Februari 2026 saya migrasi semua tulisan saya ke domain sendiri. Ini bukan keputusan yang ringan, dan saya butuh tiga bulan baru bisa menilai hasilnya. Ringkasannya: traffic organik naik 3× dan saya tidur lebih lelap.
Tiga alasan pindah
Yang membuat saya akhirnya pindah bukan satu hal, tapi akumulasi tiga alasan yang muncul bersamaan:
- Audience saya bukan milik saya. Begitu saya berhenti bayar Medium membership, statistik berhenti, follower tidak bisa di-export, dan reach tiba-tiba turun karena algoritma berubah.
- Paywall yang membuat tulisan saya terkunci. Tulisan teknis yang seharusnya membantu komunitas malah jadi member-only.
- Tampilannya makin generik. Setiap update Medium ke template-nya bikin tulisan saya terlihat seperti tulisan orang lain.
Pilihan stack
Saya ingin tiga properti dari stack baru: cepat, gratis, dan owned.
Kenapa Cloudflare
Pages gratis dengan unlimited bandwidth. D1 cukup untuk komentar dan subscriber list selama bertahun-tahun. Workers free tier 100k request per hari.
Kenapa Astro
Astro 5 punya pendekatan yang sangat cocok untuk content site: zero JavaScript by default, content collections untuk markdown bertypings, dan islands architecture untuk komponen interaktif.
Hasil tiga bulan
- Traffic organik: dari ~800 pageview/bulan ke 2.400 pageview/bulan.
- Email subscriber: 0 → 78 dalam 3 bulan, semuanya organik.
- Komentar berkualitas: dari nyaris nol di Medium ke 12 komentar substansial.
Yang saya pelajari
Pertama, kebebasan datang dengan biaya kecil. Saya harus moderasi komentar sendiri. Tapi semua ini adalah pekerjaan yang sebenarnya saya nikmati.
Kedua, discoverability lebih sulit, tapi audience lebih loyal. Tidak ada lagi distribusi gratis dari algoritma Medium.
Ketiga, menulis untuk audience yang saya pilih sendiri lebih menyenangkan. Worth it.
Suka cerita ini? Subscribe untuk cerita berikutnya langsung ke email kamu.